Missji’s Weblog

June 15, 2008

Ayutthaya Kota Tua

Filed under: Uncategorized — missji @ 1:07 am
Tags:

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Udara Suvarnabhumi Bangkok rasanya seperti kembali ke rumah sendiri. Bagaimana tidak? Penduduk Bangkok secara fisik sangat mirip dengan orang-orang di Jakarta, wajah menyapa terlihat di sana sini, murah senyum, dengan sapaan khas yang mampir di telinga membuat hati berbunga-bunga.   

Begitu melangkahkan kaki menyusuri koridor bandara,  Anda akan melihat bentuk bangunan beraksitektur megah dan modern dengan perpaduan besi baja dan kaca. Bandar udara Suvarnabhumi ini kini menjadi yang termegah di kawasan Asia Tenggara. Semua fasilitas yang disediakan sangat memudahkan orang-orang yang datang berkunjung; mulai dari counter visa on arrival yang efisien, kemudian proses imigrasi yang lancar, belum lagi fasilitas restoran, lounge dan café yang nyaman, toko-toko bebas bea, tempat pengambilan bagasi yang modern, trolley untuk bagasi, meja informasi, buku panduan pariwisata semua disediakan untuk memudahkan Anda berkunjung dan menjelajahi Bangkok.

           Lepas dari bandara, begitu kendaraan yang membawa Anda memasuki pusat kota maka Anda akan menikmati kembali suasana seperti di Jakarta. Kemacetan di beberapa ruas jalan dan persimpangan berebut memenuhi mata Anda dengan pekatnya asap knalpot. Belum lagi kesibukan di pelbagai gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan mewah semakin menambah rasa seperti di negeri sendiri. Tetapi kalau diperhatikan dengan lebih seksama ada beberapa hal yang membuat Bangkok berbeda dengan Jakarta, gedung-gedung pencakar langit tumbuh bak jamur di musim hujan, dan yang paling menyolok adalah jalur sky train alias monorail yang katanya juga akan bisa dinikmati oleh warga Jakarta kalau pembangunannya selesai.  Melihat semua itu seakan tidak percaya pembangunan di Bangkok sedemikian pesatnya untuk menjadi kota metropolitan mengingat sebagai sesama negara anggota Asean negara ini pun tidak luput dari krisis ekonomi yang melanda 10 tahun lalu. Salah satu bukti kemajuan Bangkok yang memesona adalah adanya akuarium laut terbesar di Asia yang terletak di lantai paling bawah dari sebuah pusat perbelanjaan. Ini semua berada di Bangkok. Ya, ibukota Thailand yang didirikan oleh Raja Rama I, sebelumnya ada tiga ibukota pendahulu yaitu Sukothai, Ayutthaya dan Thonburi. 

 Ayutthaya sendiri banyak menyimpan kisah dalam perkembangan Thailand sebagai kerajaan yang besar di kawasan Indo China pada waktu itu, hal ini dikarenakan Ayutthaya merupakan daerah penghasil padi terbesar dan dikelilingi sungai Chao Praya, sungai Pasak dan sungai Lopburi. Jika hujan besar, banjir selalu terjadi. Maka  dibuatlah kanal-kanal untuk mengalirkan air dan kolam-kolam untuk menampungnya. Nama Ayutthaya  sangat identik dengan kota Ayodya dari cerita Ramayana. Tetapi ada juga kalangan akademis yang mengatakan bahwa Ayutthaya berarti “Kota yang tidak terkalahkan”. Ini untuk mengungkapkan saat Naraseuan sebagai raja mengalahkan Birma atau sekarang yang kita kenal dengan Myanmar. 

Selain terkuat, Ayutthaya juga merupakan kerajaan yang kaya. Di sana merupakan   pusat agama Budha. Bentuk tempat beribadahnya (kuil atau dalam bahasa Thai disebut Phrang) dipengaruhi oleh kebudayaan Khmer dari Kamboja, yaitu tinggi menjulang menyerupai jagung. Sementara bentuk stupa dipengaruhi budaya Sri Lanka.  Semua bukti-bukti kebesaran kerajaan ini masih dapat Anda lihat dalam puing-puing atau runtuhan yang terjaga dengan baik.  Hal ini menunjukkan betapa penduduk Thailand menghargai sejarah. 

 Tempat wisata

1. Vihara Phra Mongkhon Bophit

Kompleks kerajaan ini adalah tempat pertama yang patut dikunjungi. Di sini berdiri Vihara Phra Mongkhon Bophit dengan patung Budha setinggi 12.45 meter terbuat dari perunggu yang dilapisi emas. Bangunan utama dibangun pertama kali pada masa pemerintahan Raja Song Tham.  Bangunan ini dibakar pada waktu diserang oleh Birma pada 1767 yang kemudian  direstorasi pada 1920 pada pemeritahan Raja Rama VI. Di sebelah kanan berdiri kompleks kerajaan yang dibangun oleh Raja Borom Trai Lokanath. Di dalamnya terdapat kuil untuk menghormati Sang Budha yang bergelar “Phra Si Sanphet” tetapi kita tidak bisa melihat lagi patung sang Budha karena hancur oleh tentara Birma.   Bangunan ini pertama kali didirikan pada 1448 lalu secara bertahap bangunan ini dikerjakan, pada 1492 dibangunlah ketiga bangunan Chedi atau Stupa dan merupakan landmark dari kuil ini. Setelah itu pada 1499 baru bangunan utama didirikan.  Ketiga bangunan stupa ini selain menjadi ciri khas kuil  juga dipercaya sebagai tempat penyimpanan abu raja Borom Trai Lokanath, Boromrachathirat III dan Raja Ramathipbodi II. Pada masanya kuil ini hanya dipergunakan untuk upacara keagamaan dan negara serta untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan.  Walau sudah tinggal puing, kita masih dapat melihat keindahan dari ketiga stupa yang masih berdiri kokoh walau sedikit miring karena perubahan struktur pondasi.

 2. Wat Phra Ram.

Letaknya tidak jauh dari Wat Phra Si Sanphet. Tepatnya di sebelah timur Royal Palace, bangunan ini berhubungan erat dengan Raja U-thong.  Menurut cerita beliau mendirikan kota ini dekat sebuah kolam. Konon, awalnya kolam ini berukuran kecil tetapi karena tanahnya terus digali untuk pembangunan kota maka kolam pun menjadi besar seperti sekarang. Interpretasi lain berpendapat bahwa kuil ini dibangun pada tahun 1369 oleh Ramesuan untuk tempat kremasi jenazah ayahnya U-tong. Di sana terdapat 4 stupa yang masing-masing menggambarkan Budha dalam posisi duduk, berdiri, berjalan dan berbaring.  Sayang sekali stupa budha berbaring ini sudah hancur.

3. Wat Maha That.

Bangunan ini adalah tempat tinggal para bhiksu serta Ketua Tertinggi dari para bhiksu. Bangunan utama terletak di tengah, sementara bangunan vihara dan ruang pentahbisan sebagai bhiksu ada di depan dan belakang bangunan utama. Didirikan pada abad ke 14 sesudah Masehi,  bangunan utama ini sekarang tinggal bagian pondasinya saja sementara stupa utama sudah hancur ketika terjadi gempa pada 1904. Di kompleks ini juga ditemukan keunikan lain yaitu adanya patung kepala Budha yang terletak di antara lilitan akar pohon beringin. Menurut informasi yang ada ketika akan dilakukan restorasi para arkeolog tidak menemukan badan sang Budha sehingga dibiarkan terletak begitu saja sampai akhirnya dikelilingi oleh akar pohon.

 4. Wat Ratchaburana

Letaknya ’selangkah’ dari Wat Maha That. Kalangan akademis berpendapat bangunan ini dibangun sekitar tahun 1424 abad ke 15 sesudah Masehi.  Sejumlah dokumen kuno juga menuliskan bahwa Wat Ratchaburana dibangun oleh raja Boromrachathirat II di areal tempat kedua saudara kandungnya berperang satu sama lain karena memperebutkan tahkta, karena mereka berdua tewas akhirnya Boromrachathirat menjadi raja. Keunikan lain dari kuil ini adalah ditemukan bilik tempat penyimpanan barang-barang berharga di bagian dasar bangunan utama yang turun ke bawah seperti piramida di mesir.  Dari bilik ini ditemukan banyak sekali barang-barang berharga seperti koin emas yang berasal dari jazirah Arab, perhiasan, pajangan berharga. Ruang penyimpanan ini mempunyai tiga tingkat di dalamnya di mana sebelumnya pemerintah Thailand tidak mengetahui adanya ruang penyimpanan ini sampai ditangkapnya para penjarah benda bersejarah pada tahun 1957 setelah dilakukan ekspansi lebih lanjut ditemukan ada tiga ruang penyimpanan dengan hampir 2000 artefak kuno di dalamnya. Sebagian berupa perhiasan emas dengan total lebih dari 100 kg dan 100.000 lebih sejumlah artefak berukiran untuk sembahyang.

 5. Wat Yai Chaimongkol.

Dibangun sekitar abad ke 15 sesudah Masehi, bangunan ini mempunyai stupa besar setinggi 62.10 meter dan dibangun dengan batu bata sebanyak 28. 144 ton untuk memperingati kemenangan atas Birma oleh Naresuan Sang raja Agung. Stupa ini diberi nama “Chaimongkol” yang artinya berjayalah, kemudian nama ini digabungkan dengan nama resmi kuil ini sendiri yakni “Wat Yai”.  

 6. Wat Phukhaothong.

Agak sedikit jauh dari pusat kota, bangunan ini berwarna putih tinggi menjulang terletak di tengah hamparan sawah dengan patung Naresuan Sang Raja Agung di depan pintu masuk.  Menurut kalangan akademisi berdasarkan sejumlah dokumen yang ditemukan, Wat Phukhaothong dibangun sebagai monumen untuk memperingati kemenangan Naresuan atas pasukan Birma, sehingga bentuk stupa utama bergaya arsitektur khas Ayutthaya sedangkan bagian dasar pondasi bergaya Birma dan juga sebagai simbol kemenangan bagi Thailand atas Birma. Karena menurut sejarah ketika Ayutthaya diserang Birma pada tahun 1569 dan pasukan Birma memperoleh kemenangan dengan membangun monumen kemenangan untuk memperingatinya  tetapi hanya sampai di tingkat tiga  karena terlanjur diserang kembali oleh Naresuan. Pada tahun 1754 ketika Borommakot memerintah beliau membangun stupa utama di atas bangunan pondasi utama yang tidak selesai karena ditinggal begitu saja oleh Birma. Inilah yang dimaksud dengan simbol kemenangan Thailand atas Birma. Stupa utama ini melambangkan juga arti nama bangunan ini sendiri yaitu “Gunung Emas”.  Sayang sekali setelah dilakukan penelitian beberapa kali ditemukan lubang besar di pondasi dasar bangunan sebelah barat di mana ini terjadi karena akibat penggalian tidak resmi dari para penjarah. Karena itu bangunan ini menjadi amblas ke dalam tanah sekitar dua meter, oleh Departemen Kebudayaan dan Sejarah Pemerintah Thailand bagian yang berlubang ditambal dengan memasukkan cairan kimia yang akan langsung padat sehingga akan menahan bangunan ini agar tidak amblas lebih dalam.

 7. Wat Chaiwattanaram.

Dibangun oleh Prasat Thong pada masa pemerintahannya tahun 1673 di sebuah lahan milik ibunya.  Bentuk kuil ini melambangkan ajaran Budha di alam raya. Dipercaya bahwa pusat dari kehidupan di alam raya ini berpusat pada sebuah gunung besar yang dikenal dengan nama Mahameru yang terletak di tengah-tengah bangunan; gunung ini sendiri dikelilingi oleh tujuh unsur kosmik lautan dan tujuh unsur kosmik pegunungan serta di setiap empat penjuru alam raya terdapat empat benua di mana manusia hidup. Di sini terdapat juga 120 patung sang Budha yang sedang duduk di sepanjang tembok bangunan utama yang menjadikan bangunan ini menjadi tempat yang disucikan.

         Perjalanan kembali ke kota tua Ayutthaya menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita sendiri, bagaimana rakyat Thailand sangat menghargai kebudayaan dan sejarah mereka dengan menjaga warisan leluhur mereka serta menghormati Sang Budha sebagai penuntun hidup mereka. Dengan menghargai warisan sejarah dan menjaga bangunan kuno  masyarakat Thailand bisa menjadi seperti yang sekarang ini, bentuk keseriusan ini pun dihargai oleh UNESCO sebuah badan milik PBB dengan menjadikan Ayutthaya sebagai Warisan Dunia dan dilindungi oleh undang-undang dan hukum internasional pada tahun 1991.  Dan seperti yang diungkapkan juga oleh Yang Mulia Raja Bhumibol bahwa “bangunan baru dan modern yang sekarang berdiri megah adalah kebanggaan para arsiteknya tetapi bangunan bersejarah adalah kebanggaan bangsa. Setiap bongkah batu kecil dari peninggalan sejarah apa pun bentuknya layak dijaga kelestariannya. Tanpa Sukothai, Ayutthaya dan Bangkok; Thailand pada masa sekarang tidak mempunyai makna”. Kita semua tentu mengharapkan hal yang sama pada bangsa Indonesia. Semoga … 

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.